Fenomena QUICK COUNT Pilpres 2014

pilpres 2014
Mungkin Pilpres 2014 kali berbeda dengan Pilpres tahun-tahun sebelumnya, dimana kedua kubu calon Presiden dan Wakil Presiden sama-sama bersaing sangat ketat, dan dengan segala macam cara dibuat untuk saling mencari simpatik masyarakat serta berbagai cara untuk saling menjatuhkan kubu lawan.

Dan yang paling sering kita dengar adalah kampanye Hitam, saling serang untuk menjatuhkan kubu lawan dengan menyebar isu-isu negatif, Isu sosial dll (yang belum tentu kebenarannya). Persaingan sangat terasa sebelum hari pemilihan (9 Juli 2014) mulai dari debat Capres dan Cawapres, berita-berita baik dimedia cetak maupun media sosial yang hampir sepanjang waktu terisi dengan berita-berita perihal pemilihan calon Capres dan Cawapres.

Dan kehebohan bukan saja terjadi sebelum hari pemilihan, namun pada saat setelah waktu pemilihan resmi ditutup dan perhitungan suara dimulai, QUICK COUNT Pilpres 2014 pun mengalami banyak perbedaan. Bahkan yang paling mencolok adalah ada beberapa TV Swasta yg terlihat saling condong ke kubu tertentu saling melempar pendapat bahwa calon merekalah yang menang dengan menunjukan bukti perhitungan cepat tersebut…….

Sekarang yang jadi pertanyaan. pantaskah sebuah media masa bersikap seperti itu? seharusnya posisi mereka adalah menjadi pihak yang netral dimana memberikan informasi dan kebenaran kepada masyarakat…..

Mungkin dikembalikan lagi kepada masing-masing individu, atau ada yang bilang negara kita negara yang demokratis…. iya memang benar negara kita negara yang demokratis, namun apa benar atau dibenarkan jika sebuah media yang dipercaya untuk memberitakan ke kalayak umum sebuah info yang tidak sesuai dengan kebenaran hanya untuk mendukung salah satu kubu.

Jika kita memang sadar dan mengerti makna dari sebuah sistem demokratis, kita akan bisa menerima dan berjiwa besar terhadap apapun hasil dari pemilu kali ini, siapapun tidak ada larangan buat mendukung salah satu kubu dan itu hak setiap individu. Dan kita harus sadar bahwa disetiap persaingan pasti ada yang kalah dan menang, sudah sepatutnya kita bisa menerima dengan kenyataan yang sudah ada. Intinya kita ucapkan SelamatΒ  kepada para pemenang serta tetap menghormati pihak yang kalah itulah inti dari sebuah demokrasi dinegeri tercinta ini…. SALAM

 

Info menarik Lainnya:

 

Iklan

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

  1. #1 by Anonim on Juli 10, 2014 - 11:45 am

  2. #2 by ysalma on Juli 11, 2014 - 4:32 am

    setuju, harusnya media bersikap netral,
    tapi ternyata tak ada yang netral
    siapapun pemenangnya harus memimpin Indonesia dengan baik πŸ™‚

  3. #3 by Beby on Juli 11, 2014 - 4:52 am

    Mungkin karena mereka menganggap zaman sekarang uda bebas buat berekspresi Bang, jadi ya terang-terangan mendukung salah satu pihak.. Hahah.. πŸ˜€

  4. #4 by jampang on Juli 11, 2014 - 5:56 am

    sepertinya media sekarang jarang yang netral. beritanya tergantung pemiliknya memihak kemana

  5. #5 by duniaely on Juli 11, 2014 - 11:07 pm

    Sepakat πŸ™‚

  6. #6 by Dyah Sujiati on Juli 12, 2014 - 8:41 pm

    Memang menyedihkan sikap sebagian masyarakat yang salah kaprah berdemokrasi.
    Terkait media, sudah banyak dibahas ketidaknetralan mereka. Walau tidak semua media tentu saja.
    Sy sudah bikin postingan untuk janji sy kemarin, hehe http://dyahsujiati.com/2014/07/12/dampak-psikologis-pilpres-yang-tak-terlirik/

  7. #7 by Aisah K on Juli 12, 2014 - 10:36 pm

    Sebetulnya dari jaman reformasi dulu udah mulai keliatan media ga netral lagi dengan sering *bisanya* menjelekan pemerintah dan sekarang ditambah pemiliknya kebanyakan orang yg berkuasa dipartai & dimanfaatkan 😦

    makanya udah males liat tv2 yg ga netral lagi

    tapi yg lebih lucu si hasil quick count bisa beda2 gitu yg menangnya πŸ™‚

  8. #8 by Ditter on Juli 13, 2014 - 11:55 am

    Medianya terlalu loyal dengan pemiliknya hingga akhirnya jadi condong ke salah satu kubu…. 😦

  9. #9 by Nunu El Fasa on Juli 15, 2014 - 4:55 am

    Sabar menanti 22 juli

  10. #10 by les IB di Jakarta on April 8, 2015 - 4:23 pm

    Ya saya setuju lebih baik media massa itu bersikap netral dan tidak memihak kepada kubu siapa atau siapa. Namun untuk fenomena ini sendiri sepertinya bukan lah hal yang baru karena dari tahun sebelumnya juga media massa tidak terlihat netral.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: