Fakta-fakta Lembah Baliem dan Suku Dani Papua

suku-dani

Lembah Baliem adalah lembah yang terletak di jantung Papua, dan merupakan daerah yang masih sangat tradisional. Letaknya yang diapit pegunungan Cyclop di Wamena ini membuat penduduknya sedikit tertinggal dalam hal perkembangan peradaban.

Lembah ini dihuni oleh orang-orang suku Dani, dan 2 suku asli lainnya, yaitu Suku Yali dan Lani. Di Lembah Baliem terdapat tiga suku asli yang tinggal dan hidup bersama, yaitu suku Dani, suku Yali, dan suku Lani. Lembah Baliem dan suku Dani ini sudah terkenal di berbagai negara dunia lho. Jika kamu sudah tahu tentang fakta tersebut, sebaiknya kamu juga lihat keenam fakta tentang lembah Baliem dan Suku Dani berikut yang mungkin belum kamu ketahui.

1. Pusat pendidikan agama Islam terbesar di Papua

suku-dani1Mayoritas penduduk di Walesi menganut agama Islam, sehingga mereka menggunakan pakaian tertutup pula – Pinterest

Babi dan anjing menjadi mayoritas hewan peliharaan bagi masyarakat Papua. Hal ini memberi kesan bahwa agama yang mereka peluk adalah non-muslim. Namun kenyataannya, di distrik Walesi, yang juga merupakan daerah di Lembah Baliem, masyarakatnya menjadi pemeluk agama Islam terbesar di Tanah Papua. Walesi menjadi pusat pendidikan agama islam bagi masyarakat Suku Dani. Di sini terdapat sebuah madrasah dan presantren yang sudah berumur tua.

Perbedaan agama ini tidak lekas menjadi sebuah perpecahan. Mereka bisa hidup rukun satu sama lain. Bahkan tak sedikit dari satu keluarga yang menganut perbedaan keyakinan. Islam memberikan warna berbeda di Tanah Papua. Jika tradisi adat ‘bakar batu’ di Papua biasa menggunakan daging babi, muslim di Walesi Papua menggantinya dengan daging ayam.

2. Festival Lembah Baliem, atraksi drama  perang antar suku

suku-dani2-perangFestival Lembah Baliem sudah terkenal di kalangan turis internasional. Acara Festival Lembah Baliem, merupakan acara perang antar Suku Dani, Suku Lani, dan Suku Yali. Perang antar suku ini tentunya aman untuk disaksikan. Bahkan acara festival ini menyedot perhatian para wistawan lokal maupun dunia. Acara berlangsung selama 3 hari dan dilaksanakan setiap bulan Agustus menjelang perayaan kemerdekaan Indonesia.

Atraksi ini bermakna positif bagi masyarakat Lembah Baliem yaitu ‘yogotak hubuluk motog hanaro‘ yang artinya ‘harapan akan hari esok yang harus lebih baik dari hari ini.’

3. Tradisi potong jari dan mandi lumpur sebagai bentuk ungkapan kesedihan

suku-dani3-potong-jariUngkapan rasa sedih atas kehilangan sanak keluarga bagi Suku Dani yaitu dengan potong jari (ikipalin). Inilah simbol dari rasa sakit dan pedih yang mereka rasakan. Karena bagi masyarakat Suku Dani, jari tangan melambangkan kerukunan, kebersatuan, dan kekuatan dalam diri manusia.

Pemotongan jari ini bisa dilakukan dengan benda tajam, digigit hingga putus atau mengikatnya dengan seutas tali hingga jari mati dan setelahnya baru dipotong. Terdengar sangat mengerikan memang. Namun, seiring perkembangan zaman, aksi potong jari makin ditinggalkan.

Selain potong jari, ada juga aksi mandi lumpur yang memberi makna bahwa setiap manusia yang meninggal akan kembali ke tanah.

4. Pasir putih tanpa pantai di Lembah Baliem

suku-dani4-pasir-putihLembah Baliem berbentuk perbukitan hijau yang memiliki pemandangan sangat indah dan alami. Namun, di atas sini justru terlihat pemandangan seperti pantai dengan adanya pasir putih. Tekstur pasir putih di Lembah Baliem sama persis dengan pasir yang ada di pantai dan bahkan terasa asin.

Tak hanya pasir putih yang menguatkan pendapat bahwa Lembah Baliem dulunya adalah danau. Lembah Baliem juga juga memiliki batu-batu granit yang menyembul dari tanah. Konon, kawasan ini dulunya memang sebuah danau. Namun akibat gempa, terjadilah perubahan alam akibat lempeng-lempeng bumi yang bergeser.

 5. Pesta bakar batu menjadi bukti kerukunan warga di Lembah Baliem

suku-dani5-bakar-batuIni merupakan perayaan atau pesta yang dilakukan oleh Suku Dani di Lembah Baliem ketika mendapati kelahiran, pernikahan, upacara kematian, syukuran, atau euforia setelah perang. Uniknya api yang dibuat tidak menggunakan korek api, melainkan dengan menggesek-gesekkan 2 kayu hingga menimbulkan api, yang lantas kemudian digunakan untuk membakar batu. Batu disusun di atas tumpukan daun yang kemudian akan dimasuki ubi atau babi untuk dimasak. Kegiatan bakar batu membutuhkan gotong royong yang solid. Di sinilah bentuk kerukunan yang paling terlihat.

6. Suku Dani punya mumi

suku-dani6-mumiDi Lembah Baliem, terdapat mumi yang usianya sudah mencapai 300 tahun yang di simpan dalam pilamo (rumah laki-laki). Mumi tersebut bernama Wim Motok Mabel yang merupakan panglima perang. Jasad mumi dipercaya mampu mensejahterakan seluruh keturunannya di masa mendatang.

Semua hal-hal menarik tersebut dapat kita temukan jika berwisata ke Papua. Tunggu apa lagi?

 

Sumber Artikel klik disini

Iklan

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: