Sejarah Desa Penglipuran Bali

Menurut penduduk setempat, kata penglipuran sendiri diambil dari kata Pengeling Pura yang artinya tempat suci untuk mengenang para leluhur. Ya masyarakat disana memang sangat menjunjung tinggi amanat dari para leluhur-leluhurnya dulu.

Ciri khas yang sangat nampak dari desa ini yaitu arsitektur bangunan tradisional yang rata-rata memiliki bentuk yang sama yaitu bentuk atap dan juga tata letak ruangan.Mungkin tujuannya adalah untuk lebih mendekatkan sesama warga sehingga kebersamaan mereka tetap terjaga, selain itu mereka juga memiliki konsep berpadu dengan suasanan alam.

Desa Penglipuran adalah salah satu desa adat yang ada di Bali yang berlokasi di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli yang telah mendapat penghargaan kalpataru dari pemerintah. Pengertian kalpataru sendiri adalah penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia.

Selain mendapat penghargaan kalpataru, Desa ini juga mendapat predikat sebagai desa wisata oleh pemerintah Kabupaten Bangli pada tahun 1955, semenjak itulah desa ini mulai banyak dikunjungi oleh para wisatawan hingga sekarang ini. Suasanan Bali sangat kental sekali di Desa Penglipuran ini. Kerukunan, kebersamaan dan keramahan penduduk lokal membuat para pengunjung merasa nyaman ketika berada di Desa ini. Para penduduk juga tidak keberatan untuk membantu para pengunjung.

Jika Anda berada di desa ini, Anda akan disuguhi suasana yang sejuk, bersih dan juga rapi. Walaupun bangunan-bangunan yang ada disana dibuat dengan tradisional, tetapi penduduk setempat sangat menjaga kebersihan desa mereka. Hal unik dari desa Penglipuran ini adalah tata kelola ruang desa yang sangat terlihat. Dibagian utara terdapat pura Penataran yang letaknya lebih tinggi dari rumah adat mereka. Sedangkan bagian tengah desa ini terdapat rumah-rumah penduduk.

Desa Wisata ini memiliki luas 112 hektar yang mana 40% digunakan sebagai lahan untuk hutan bambu. Desa tersebut dihuni sekitar 226 keluarga yang kebanyakan berprofesi sebagai petani, pengrajin bambu dan berternak.
Terdapat lahan bambu yang sangat luas, meskipun begitu, penduduk tidak boleh sembarangan dalam menebang pohon bambu tersebut, harus meminta izin kepada tokoh masyarakat sekitar.
Selain memiliki budaya menghormati antar sesama, desa ini juga menjunjung tinggi keberadaan wanita. Ya disana terdapat aturan yang melarang suami untuk menikah lebih dari satu atau poligami. Jika seorang laki-laki ketahuan berpoligami maka akan mendapat sanksi beruba dikucilkan.

Desa ini juga memiliki budaya hukuman untuk pencurian, bagi yang ketahuan mencuri, akan dihukum untuk memberikan sesajen lima ekor ayam dengan warna bulu ayam yang berbeda di 4 pura leluhur mereka. Dengan cara ini, semua penduduk desa akan mengetahui siapa yang mencuri, tentunya akan membuat efek malu.

 

Sobat bantu Subscribe, like, comment & Share video channel Andix Menone ya…. Salam persahabatan selalu dari menone…. salam

, , , , , , ,

  1. #1 by rahmiaziza on September 16, 2018 - 10:43 am

    Dua kali ke Bali ngga kepikiran datang ke desa ini ih. Bagus ya desanya bersih dan asri.

    • #2 by MENONE on September 19, 2018 - 7:36 am

      keren banget gan…. bersih dan asri…..

  2. #3 by Syahru Ramadhani on September 16, 2018 - 2:18 pm

    Klo k Bali mgkn nti bisa sy coba mngunjungi tmpat Ini.. Thanks infonya bang πŸ˜‰

    • #4 by MENONE on September 19, 2018 - 7:36 am

      sangat rekomended gan hehehehe……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: